Aplikasi Android buatan lokal Bertemakan Pendidikan

Jellyfish

KOMPAS.com – Semula bersikap agak keras, American Academy of Pediatrics (AAP) kini mulai melunak dan menyebut bahwa gadget baik bagi awal pertumbuhan anak. Ada apa?
Perubahan sikap ini didasarkan pada hasil pertemuan para pendidik, dokter anak, ahli saraf, peneliti media, dan ahli sosial, yang terjadi pada Mei 2015.

Dalam acara “Growing Up Digital: Media Research Symposium” itu, para ahli berbagi pandangan mereka tentang beberapa manfaat dan bagaimana anak-anak bisa tertarik dengan perangkat-perangkat canggih itu pada saat usia mereka masih sangat muda.

Beberapa gadget yang menjadi perhatian tidak hanya berlaku untuk smartphone dan tablet tetapi juga komputer secara umum.

Sebelumnya, pada 2013, AAP menganjurkan para orangtua menjauhkan gadget dari jangkauan anak-anak di bawah dua tahun.

Mereka juga menyarankan agar menjauhkan televisi dan jaringan internet dari kamar si kecil seperti ditulis Jordan Saphiro—penulis pendidikan global—pada Forbes, Rabu (30/9/2015).

Namun, pada hari ini—setelah dihadapkan pada populasi anak-anak dan orang dewasa yang sangat tergantung pada perangkat teknologi—AAP tampaknya lebih menerima bahwa jika ditangani dengan benar, perangkat-perangkat tersebut akan memberi dampak baik yang besar terhadap pertumbuhan anak.

Bikin anteng

Sependapat dengan AAP, psikiatri anak dan remaja Victor Fornari mengungkapkan, saat ini teknologi sudah berganti fungsi selaiknya pengasuh anak.

ThinkstockIlustrasi anak main gadget.

“Orangtua bisa melakukan banyak hal lain saat anak-anaknya asyik bermain gadget,” ujar Fornari seperti dilansir oleh Healthday, Jumat (10/6/2016).

Maka dari itu, kata Forneri, tak heran kalau banyak orangtua yang membolehkan atau bahkan memberi anak-anaknya tablet sebagai alat untuk membuat anak-anaknya anteng.

Di Amerika Serikat, seperti dilaporkan Dailymail pada 2013, disebutkan 29 persen pengguna gadget seperti tablet adalah balita. Lalu, 70 persen anak-anak usia sekolah dasar juga sudah paham dan menguasai gadget berteknologi itu.

Mengejutkan, bukan, saat mengetahui bayi umur dua tahun sudah terbiasa bermain perangkat itu?

Nah, Indonesia saat ini kurang lebih menghadapi kenyataan yang sama. Namun, seperti yang sudah diterangkan, akan sulit menghindari kehadiran perangkat dari proses modernisasi itu.

Maka dari itu, AAP merevisi aturan singgungan teknologi pada anak. Saat ini mereka mengatakan bahwa media berteknologi adalah salah satu alternatif lingkungan bagi anak.

“Bagaimana bisa orangtua menjauhkan gadget dari anak-anak saat mereka (orangtua) sendiri anteng pada perangkat-perangkat itu di rumah?” tulis AAP dalam publikasinya.

Ada fakta menarik, menurut AAP, action figurepuzzle, dan permainan konvensional lainnya cepat membuat anak-anak bosan.

Akan tetapi, saat permainan yang sama muncul sebagai aplikasi dalam tablet, mereka (anak-anak) bisa memainkannya secara berulang dan seakan-akan tidak bosan.

“Rupanya ada kenikmatan bermain saat anak-anak ini berinteraksi dengan layar touchscreen,” lanjut AAP.

Dengan kenyataan itu, wajar kalau tablet dan gadget berteknlogi lainnya menjadi hadiah yang diidam-idamkan anak usia 5-12 tahun.

Tantangan berikutnya adalah cara orangtua manfaatkan perangkat itu untuk perkembangan anak mereka. Hal tersebut harus diperhatikan karena tak semua konten yang dilihat di gadget akan sesuai dengan usia anak-anak.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, AAP di dalam situs resminya sudah memberikan rekomendasi yang ditujukan pada orangtua dan dokter anak. Salah satu aturan yang dianjurkan adalah mengkurasi isi dan konten gadget.

Dari pantauan AAP, ada lebih dari 80.000 aplikasi dalam Android berlabel pendidikan. Namun, karena sedikitnya penelitian, label itu tidak dianggap valid.

Satu-satunya cara agar apa pun yang dilihat dan dimainkan anak aman adalah dengan melakukan pendampingan. Sayangnya, tak semua orangtua bisa membagi waktu untuk fokus memperhatikan dan menemani anaknya.

Banyak aplikasi-aplikasi lokal yang dibuat oleh orang Indonesia bertebaran di play store maupun di App Store dan tidak sedikit aplikasi yang mereka buat bertemakan pendidikan salah satunya aplikasi edugame : “Bermain Sambil Belajar”.